14/11/09

Warnet Murah Meriah


Share/Save/Bookmark
Warnet 10 juta rupiah bukanlah tidak mungkin, asumsinya adalah jumlah client hanya 5 PC dan tentunya anda harus puas dengan tampilan desktop yang apa adanya, jangan bermimpi memakai KDE 4.2 selain itu anda di tuntut untuk memiliki skill lebih karena anda harus melakukan instalasi warnet anda sendiri. Perhitungan detailnya adalah sebagai berikut;


Biaya Pembelian Hardware;
PC yang anda beli minimal 6 buah dengan perincian 5 buah PC Bekas PIII dengan RAM 128 yang bisa di tebus dengan harga RP. 800.000,00 yang akan di gunakan sebagai client, kemudian 1 buah PIV bekas dengan RAM 512 yang bisa di tebus sebesar Rp. 2.000.000,00 yang akan di gunakan sebagai billing dan PC operator, oya jangan lupa tebuslah printer Epson C.90 dengan CISSnya kemungkinan sekarang seharga Rp. 800.000,00 kalo CISS anda pasang sendiri bisa lebih murah Rp. 200.000,00.

Biaya Sambungan Speedy;
Speedy bisa di tebus dengan biaya antara Rp. 800.000,00 hingga Rp. 1.000.000,00 namun usahakan membeli modem tersendiri jangan yang dipaketkan karena nantinya modem itu akan kita manfaatkan seluruh fasilitasnya sehingga membutuhkan modem dengan kualitas yang cukup baik.

Biaya Jaringan;
Jaringan minimal anda membutuhkan 1 buah switch, cari saja yang termurah, di sini bisa di tebus sebesar Rp. 350.000,00 kemudian konektor RJ-45 sebanyak 12 buah dan Kabel Belden sesuai kebutuhan (disini harga per-meter Rp. 3000,00-an) jika asumsinya anda membutuhkan 100 meter maka biaya untuk kabel UTP adalah Rp. 300.000 dan RJ-45 sebesar Rp. 48.000,00
Sisa sebesar Rp. 1.800.000 silahkan anda gunakan untuk desain tempat seperti penyediaan meja dan lain sebagainya, kalo pengen murah beli ajah meja komputer murahan sebesar Rp. 30.000,00 sebanyak 5 biji, ndak perlu pake sekat ataupun AC, cukup dengan kipas angin dinding.
Nah gimana? bisa kan Rp. 10.000.000,00 jadi Warnet?.

Pemilihan Operating System
PC sekelas PIII dengan RAM 128 kemungkinan di bundle dengan HD sebesar 4 Gbyte cukup bila anda pasang/install OS Linux seperti;

  • Zencafe 1.4 atau Zencafe 1.4d
  • openSUSE 11.0 minimal dengan desktop LXDE atau fvwm
  • Slackware 11 dengan desktop icewm
  • Damn Small Linux

Sebaiknya untuk modal semepet ini jangan gunakan LTSP karena kita tidak cukup punya uang untuk membeli komputer sekelas Core2Duo ataupun AMD TurionX2, selain itu lupakan smoothwall, clarkconnect dan sebangsanya karena tambahan PC yang kurang perlu sebaiknya di hindari.

Analisa Bisnis
Anggaplah dalam satu hari kita buka dari jam 07.00 WIB hingga 24.00 WIB dengan perkiraan jam terpakai hanya 50 persen berarti dari 17 jam hanya 8,5 jam saja yang terpakai, dari 8,5 jam tiap PC nya kita hanya mengasumsikan terpakai 3 unit berarti total jam yang kita sewakan ke user tiap harinya adalah 25,5 jam. Jika biaya sewa kita tetapkan sebesar Rp. 3.500,00/jam maka tiap harinya kita mendapatkan Rp. 89.250,00 berarti tiap bulannya kita mendapatkan Rp. 2.667.500,00 hanya dari biaya sewa. Pemasukkan tambahan lainnya bisa kita dapatkan dari;

  • Pemasukkan dari penge-print-an
  • Pemasukkan dari kursus privat Internet ataupun Linux
  • Pemasukkan dari pengetikkan
  • Pemasukkan dari penjualan minuman

Secara kasar jika dari total pemasukkan lain-lainnya adalah sebesar Rp. 500.000,00/bulan maka kita mendapatkan Rp. 3.177.500,00

Pengeluaran rutin
Tiap bulannya tentunya kita harus mengeluarkan sejumlah uang agar usaha ini dapat berjalan, untuk warnet biaya tiap bulannya dapat diperkirakan sebagai berikut;

  • Biaya Internet sebesar Rp. 825.000,00
  • Biaya Listrik sebesar Rp. 300.000,00
  • Biaya Tenaga kerja 2 orang masing-masing Rp. 500.000,00 total Rp. 1.000.000,00
Maka kita masih mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 1.052.500,00 tiap bulannya, sangat lumayan bukan? makanya buat linuxer “miskin” yang pengen punya tambahan tapi dengan modal minimal manfaatkan keahlian anda, gunakan LINUX untuk bikin warnet MURAH MERIAH ini.

cara mudah menentukan usaha


Share/Save/Bookmark
Untuk memulai usaha atau bisnis janganlah menunggu kondisi yang ideal. Keputusan Yang Tepat, modal yang cukup, lokasi yang strategis, karyawan yang cakap, waktu yang luang untuk memulai bisnis adalah kondisi yang ideal, dan untuk mendapatkan semuanya dalam waktu yang bersamaan tentu butuh pengorbanan yang lebih besar.

Apalagi bagi kita-kita yang masih berstatus sebagai karyawan di tempat lain, menunggu kondisi ideal bisa menjadi pilihan yang sulit.

Salah satu pilihan bagi seorang karyawan untuk memiliki bisnis sendiri adalah membuka usaha sambilan/usaha sampingan. Sehingga kita bisa tetap bekerja dan mendapatkan gaji, dan kita berusaha mendapatkan tambahan penghasilan lewat usaha yang kita rintis.

Membuka usaha sambilan bisa menjadi pilihan yang menyenangkan kalau kita bisa menentukan jenis usaha dan skala usaha sesuai minat dan kemampuan kita. Kalau memang kita punya kondisi yang ideal, pilihan untuk membuka perusahaan, membuka toko, atau mengambil franchise adalah pilihan yang tepat, atau jika masih bingung silahkan melihat artikel Bisnis sampingan?, Bisnis pokok?,….Pusing ahhhh.

Tapi bagi yang belum berani untuk mengambil resiko dengan membuka toko sendiri, ada satu pilihan yang mudah untuk segera memulai usaha, yaitu dengan sistem KONSINYASI.

Dengan sistem konsinyasi kita menitipkan barang dagangan kita ke toko, kios, atau minimarket / supermarket orang lain. Kita tidak perlu memiliki toko sendiri dan tidak perlu memiliki karyawan sendiri. Jelas akan menghemat banyak biaya. Kita hanya perlu menanamkan modal pada barang dagangan dan investasi waktu plus tenaga untuk menawarkan ke toko orang lain. Barangnyapun tidak harus buatan sendiri, bisa barang yang kita beli grosiran kemudian kita titipkan ke beberapa toko.

Kesepakatan Konsinyasi bisa fleksibel, untuk toko-toko kecil , cukup dilakukan secara kekeluargaan / musyawarah mufakat dan dengan kesepakatan yang lebih mudah. Berapa barang yang ditaruh, berapa harganya, kapan mau dicek, kapan dilakukan pembayaran, dan kesepakatan lain dibicarakan bersama dan setelah deal atau kedua pihak sepakat maka Konsinyasi bisa dijalankan. Ada baiknya kesepakatan ini dilakukan secara tertulis (dan memang seharusnya tertulis) meskipun dalam format yang sederhana, sehingga jika ada perselisihan, sudah ada pedomannya.

Untuk menitipkan barang ke perusahaan yang sudah besar (minimarket atau supermarket) tentu persyaratannya lebih ketat. Pihak supermarket sudah menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi.
Terus bagaimana kalau barang tidak laku? Pemilik barang biasanya menukar dengan barang lain dan mungkin barang yang tidak laku, Jadi kalau mau menitipkan barang konsinyasi sebaiknya jangan hanya ke satu toko. Kalau bisa menitipkan barang ke banyak toko, sama saja kita punya toko banyak tanpa harus sewa toko, tanpa harus membayar karyawan, dan uangpun mengalir…:D
sepertinya tidak begitu sulit, bisnis sampingan dapat, eh Penghasilan yang Utama tidak kemana, alias tetap di kita.

Bisnis sampingan?Bisnis pokok?,…. Pusing ahhhh


Share/Save/Bookmark
Seorang teman yang membuka jasa Warnet di sebuah kota di Jateng, tiba-tiba membuka tarif Rp 2000/jam. Tentu saja harga tersebut mencengangkan. Meski dengan jumlah PC yang secara bisnis masuk akal, karena jumlahnya 20 unit. Semua kondisi PC-nya laik untuk browsing internet dengan satuan kecepatan kilobyte per second (KBps) yang gede. Apakah itu tidak rugi? Kapan investasi akan balik? Belum lagi dengan biaya telepon ke Telkom, berapa margin yang didapat?Teman tersebut dengan sedikit tertawa, bilang bisa saja untung. Buktinya sudah setahun bisa jalan bagus, dan tentu untung. “Ya. Namanya usaha, dikit-dikit margin, kita lakukan saja. Namanya juga pengusaha kecil,” katanya menyela seolah merendah.
Sehari mampir di sana, saya menemukan beberapa hal. Di warnet itu, sebelahnya ada warung kecil, menyediakan makanan dan minuman ringan dan makanan sedikit berat: teh botol, kacang, rujak manis, kue-kue, hingga nasi bungkus.
Nah, harganya untuk makanan ini tidak bisa dibilang standard, karena agak sedikit mahal dibanding dengan warung lain. Selidik punya selidik, ternyata warung itu juga masih miliknya. Dan keuntungan warung justru jauh lebih besar ketimbang warnetnya.Singkat cerita, warnet itu tidak mengambil untung berarti tapi banyak ditutup dari warung makanan.
Warnet adalah semacam tempat duduk-duduk orang (kastemer/konsumen), yang setiap pengaksesnya ditawari minuman dan makanan secara aktif oleh orang warung/penjaga warnet. Pokoknya yang main internet, tidak perlu keluar ruangan bila lapar dan haus.
Jadi warnet ini hanya sarana mengumpulkan pembeli agar mau jajan ke warungnya. Dan ternyata kemudian, busines-plan warnet dan warung jadi satu, sehingga akan ketemu total revenue dan margin keuntungan yang lumayan.
Dengan contoh di atas, jelas bahwa sebenarnya warnet tersebut memiliki hidden agenda dari yang sebenarnya diharapkan, yakni pemasukan (revenue) dari warung makan yang sengaja dibuatnya.Bisnis tersembunyi tak selamanya bermodel seperti itu. Tapi bisa bersembunyi di balik sebuah program yang kelihatannya berbaik hati.
Kalau kembali ke masa silam, di Telkom kalau kita mengingat masa lampau untuk sebuah sambungan bisa sampai 5 juta lebih. Tapi kemudian ketika Dirut Telkom Cacuk Sudaryanto (alm) mengeluarkan paket pasang telepon murah, banyak yang tertarik. Di balik itu, harapannya adalah para pengguna telepon mengeluarkan pulsa lebih banyak. Dan bila telponnya tidur, langsung diputus sehingga orang akan aktif menggunakannya.
Begitu banyak telepon terpasang, harga pulsa sedikit demi sedikit dinaikkan. Sehingga yang sudah terpasang mau tidak mau harus mengeluarkan rupiah untuk teleponnya agar tetap nyala tidak ditutup.Tatkala iPod mengeluarkan banyak produk pemutar MP3 dengan berbagai varian, mulai dari shuffle, mini, 20 giga, sampai iPod foto yang 60 giga, tampak laris manis.
Tapi di balik itu, muncul bisnis turunan yang diluar bisnis alat pemutar musik itu sendiri, yakni mulai dari saku iPod, pot untuk iPod itu sendiri, sampai pot untuk disingkronkan dengan soundsytem yang canggih.Ketika membicarakan harga alat pemutar MP3-nya sendiri, orang dengan sangat hapal dan hati-hati menentukan kapan harus beli.
Tapi ketika sudah memiliki alat pemutar lagu itu, orang tidak sadar bahwa biaya ikutannya banyak sekali berupa asesori pendukung yang demikian banyaknya, tak ketinggalan download lagu-lagunya.Waralaba makanan cepat saji, barangkali untuk saat ini harga makanannya terasa murah meriah dibanding dengan cafe-cafe yang ada. Bahkan dengan makanan di warung pinggir jalan, harganya bersaing sekali. Padahal di situ kita bisa menikmati makanan dan minuman hangat plus penyejuk udara yang adem. Jangan kaget bila banyak pemilik merek waralaba sudah dapat dana puluhan juta rupiah dari harga franchise-nya.
Banyak sebenarnya bisnis-bisnis yang menguntungkan tapi berada tersembunyi di balik bisnis aslinya. Jangan-jangan ada bisnis sekolah, yang ujung-ujungnya dijadikan pasar untuk berjualan alat-alat olahraga, alat laboratorium, atau mungkin pasar laptop. Semuanya sah-sah saja. Anda pun juga bisa memberikan contoh atau bahkan sudah melakukannya?
Cuma, kalau sudah begitu, mana yang sebenarnya usaha utama dan usaha sampingan, temukan sendiri jawabnya