16/09/09

Pilihan untuk Mencintai Pekerjaan Kita


Share/Save/Bookmark
Liburan sekolah kali ini anak saya meminta untuk disunat. Sebagai orang tua, saya & ayahnya sih setuju saja jika dia memang sudah siap. Tetapi jujur saya sempat memikirkan dengan dokter siapa ya dia sebaiknya disunat.

Tanya sini tanya sana, akhirnya kami mendapatkan satu buah nama.Seorang dokter yang sudah cukup senior & ternama di bidangnya.

Pada kunjungan pertama, tanpa ekspektansi apa-apa, kami masuk ke ruangan praktek beliau.

Yang kami temui pertama kali adalah senyum ramah beliau menyapa kami & dengan akrab menanyakan apa yang bisa ia bantu. Weleh, jujur saya saat itu sudah cukup kagum.

Kenapa? Karena jarang-jarang rasanya ada seorang dokter yang menyapa kami dengan senyuman ramahnya, apalagi dokter senior seperti beliau (atau paling tidak ini pengalaman saya ya dengan beragam macam dokter).

Yang bikin saya juga tambah mendecakkan lidah adalah tatapan matanya yang langsung tertuju ke kami.

Umumnya (sekali lagi ini pengalaman saya ya) dokter-dokter yang kami kunjungi ketika kami masuk ke ruangannya ‘hanya menyapa’ (kadang-kadang cuma berdehem malah) sambil menundukkan kepala sibuk membaca medical record yang terpampang di depannya.

As if mungkin lebih penting membaca data kuantitatif yang ada di medical record itu daripada melihat, menyapa, secara langsung si pemilik medical record.

Kekaguman kami makin bertambah ketika dalam proses selanjutnya, ia tidak segan-segan membantu apa yang bisa ia bantu, berakrab-akrab ria pula dengan anak kami dan juga tidak ‘malas’ untuk membalas sms yang kami kirimkan ketika ada pertanyaan yang ingin kami ajukan.

Saya selalu kagum dengan orang-orang yang begitu mencintai pekerjaannya hingga orang-orang di sekelilingnya pun bisa merasakan perasaan positif tersebut. Kagum dengan orang-orang yang melakukan pekerjaannya all out hingga berbuat semaksimal mungkin.

Saya punya seorang teman yang berprofesi sebagai seorang pengajar. Kapan pun waktunya dia mengajar, kelas dia selalu penuh dimana yang datang pun tidak sekedar datang hanya untuk datang, tetapi benar-benar datang dengan antusiasme mereka untuk bergabung dan berpartisipasi secara aktif.

Dia pun selalu mengajar dengan penuh kecintaan, penuh semangat dan selalu memberikan yang terbaik bahkan mungkin di saat ia tidak sedang berada pada kondisi yang fit, baik secara fisik maupun mental.

Benar-benar kagum melihatnya…Jujur berapa banyak sih diantara kita yang memiliki posisi super maha tinggi tetapi melakukan pekerjaan itu semata-mata hanya karena mengejar penghasilan, kedudukan atau prestige semata.

Iyalah, uang itu penting. Siapa juga bilang saya tidak butuh penghasilan.

Tetapi mungkin saja toh kita tetap berpenghasilan sambil tetap mencintai pekerjaan kita.

Mungkin pertanyaan yang tepat untuk diajukan sekarang adalah : apakah kita sudah melakukan pekerjaan yang memang kita inginkan atau memang kita stuck saja di pekerjaan yang tidak kita cintai sekarang tanpa bisa berbuat apa-apa?

Kalau kita memang sudah berada di bidang yang kita inginkan, rasanya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mencintai pekerjaan tersebut.

Tetapi bagaimana kalau kita masuk ke dalam kategori yang stuck?

Biasanya pertanyaan yang dilemparkan kepada saya adalah, “Do I have a choice?”

Yang perlu dipertimbangkan kemudian kalau begitu adalah apakah memang iya kita stuck?

Kadang-kadang kita memang menemukan jalan buntu sih. Tetapi sejalan buntu-jalan buntunya, kita masih punya pilihan kok.

Kita bisa memutar balik bukan??? Dengan kata lain, kalau memang kita tersiksa dengan pekerjaan itu, just quit!

Saya selalu yakin dimana pun ada kemauan pasti ada jalan keluar. Saya tidak mau melakukan pekerjaan yang tidak saya suka.

Saya lebih baik berjuang lagi, & terus berjuang, untuk terus mencari sampai saya bisa melakukan pekerjaan yang memang saya cintai secara tulus.

Uang, posisi, pengakuan yang saya dapatkan dari pekerjaan saya adalah berkah-berkah tambahan yang dapat saya terima.

Berkah terpenting & terutama diatas semuanya adalah berkah karena saya mampu melakukan pekerjaan yang saya cintai dengan setulus hati sejujur-jujurnya.

Kasus terparah sekalipun, dimana Anda mungkin harus (kalau bagi saya, kata ‘Anda memilih’ lebih tepat rasanya) untuk melakukan pekerjaan yang Anda tidak suka (& membuat Anda mendumel setiap hari) hanya karena faktor keuangan, well then tetap saja itu pilihan Anda toh untuk terus melakukan pekerjaan itu.

Jadi cintailah pekerjaan itu. Pekerjaan itu tetap merupakan pilihan yang ANDA BUAT.

Kita selalu memiliki pilihan. Kalau itu memang pilihan Anda, terimalah pilihan Anda dengan besar hati.

Saya jauh lebih bisa menunduk hormat pada si tukang sapu jalanan yang melakukan pekerjaannya dengan penuh suka cita daripada pada si executive director sebuah perusahan paling ternama sekalipun namun bekerja dengan penuh perasaan tidak puas.

Bagi saya pekerjaan adalah lahan bagi saya untuk dapat memberikan yang terbaik sembari terus belajar menjadi individu yang lebih baik dan terus lebih baik.

Bagaimana pula saya bisa melakukan hal tersebut ketika pekerjaannya saja sudah tidak saya sukai?

Jadi cobalah untuk menelaah pekerjaan yang Anda miliki saat ini. Anda mencintai pekerjaan Anda secara tulus?

Kalau begitu cintailah dengan lebih lagi dan bersyukur atas pekerjaan tersebut.

Anda benci pekerjaan Anda? Sadarilah saat ini juga bahwa Anda selalu memiliki pilihan.

Pilihan itu seperti udara yang selalu ada untuk kita hirup.

Masalahnya, mau tidak kita melihat dan mengakui pilihan itu ada untuk kemudian secara berani mengambil pilihan tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar